3 Bahaya yang Mengancam Di Balik Diabetes
Diabetes adalah gangguan atau penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah akibat defisiensi hormon insulin. Insulin merupakan hormon yang berfungsi memasukkan gula dalam darah ke dalam sel tubuh untuk dipakai sebagai sumber energi. Oleh karena itu, jika insulin tidak ada atau tidak bekerja dengan baik, kadar gula dalam darah akan tinggi. Jadi, mereka yang menderita diabetes itu jumlah hormon insulinnya kurang atau hormonnya ada tetapi tidak dapat bekerja dengan efektif (kondisi yang disebut resistansi insulin).
Penyakit diabetes melitus yang tidak dikontrol dengan baik berisiko menimbulkan penyakit lain yang tak kalah berbahaya. Berikut tiga jenis bahaya diabetes yang harus diwaspadai:
1. Penyakit jantung
Penderita diebetes tipe 2 berpotensi mengalami gagal jantung dibandingkan orang yang tak diabetes. Bahkan, diabetesi yang pernah mengalami serangan jantung, juga berisiko menderita gagal jantung kedua kalinya. Serangan jantung pada diabetesi lebih berisiko kematian dibandingkan yang bukan diabetesi. Kadar gula darah yang tinggi berisiko menimbulkan pembentukan plak atau sumbatan di dalam pembuluh darah. Jika penyumbatan terjadi di pembuluh darah koroner, maka otot jantung akan kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga kerja jantung untuk memompa darah menjadi terhambat. Jika penyumbatan terjadi di pembuluh darah di otak, dapat terjadi stroke.
Penderita diebetes tipe 2 berpotensi mengalami gagal jantung dibandingkan orang yang tak diabetes. Bahkan, diabetesi yang pernah mengalami serangan jantung, juga berisiko menderita gagal jantung kedua kalinya. Serangan jantung pada diabetesi lebih berisiko kematian dibandingkan yang bukan diabetesi. Kadar gula darah yang tinggi berisiko menimbulkan pembentukan plak atau sumbatan di dalam pembuluh darah. Jika penyumbatan terjadi di pembuluh darah koroner, maka otot jantung akan kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga kerja jantung untuk memompa darah menjadi terhambat. Jika penyumbatan terjadi di pembuluh darah di otak, dapat terjadi stroke.
Obat-obatan pengencer darah akan diberikan kepada diabetesi yang mengalami penyakit jantung. Bila penyumbatan dan pengerasan pembuluh darah terjadi lebih parah, tentu perlu dilakukan tindakan lain, semisal, kateterisasi atau tindakan pemasangan stent (ring) di
pembuluh darah koroner. Bagaimana pencegahannya? Secara prinsip, agar diabetesi tak mengalami komplikasi berat, maka kadar gula darah harus terkontrol. Kuncinya dengan gaya hidup sehat, seperti menjaga pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik, tidak merokok. Ikuti diet yang disarankan dokter dan rutin berkonsultasi.
pembuluh darah koroner. Bagaimana pencegahannya? Secara prinsip, agar diabetesi tak mengalami komplikasi berat, maka kadar gula darah harus terkontrol. Kuncinya dengan gaya hidup sehat, seperti menjaga pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik, tidak merokok. Ikuti diet yang disarankan dokter dan rutin berkonsultasi.
2. Kerusakan sistem saraf
Komplikasi lain dari kadar gula darah yang tidak terkontrol dengan baik dan tetap pada kondisi tinggi dalam waktu lama adalah munculnya kerusakan serabut atau serat-serat saraf tepi. Kerusakan ini dapat terjadi pada tungkai, kaki, sistem pencernaan, saluran kemih, pembuluh darah, bahkan jantung, bergantung pada tingkat kerusakan saraf yang terjadi.
Komplikasi lain dari kadar gula darah yang tidak terkontrol dengan baik dan tetap pada kondisi tinggi dalam waktu lama adalah munculnya kerusakan serabut atau serat-serat saraf tepi. Kerusakan ini dapat terjadi pada tungkai, kaki, sistem pencernaan, saluran kemih, pembuluh darah, bahkan jantung, bergantung pada tingkat kerusakan saraf yang terjadi.
3. Luka yang sulit sembuh dan infeksi
Komplikasi ketiga adalah ulkus diabetikum, yaitu adanya luka yang lama, tidak sembuh- sembuh, permukaan luka cukup dalam, bengkak, dengan bau busuk yang khas. Ulkus diabetikum merupakan penyebab seringnya dilakukan amputasi pada diabetesi. Penyumbatan pembuluh darah dan kerusakan saraf akibat kadar gula darah yang tinggi dan tak terkontrol menyebabkan aliran darah menuju ujung kaki tidak lancar. Luka menjadi sukar sembuh, oksigen dan sel darah putih sulit mencapai jaringan, imunitas tubuh menurun, dan terjadi penurunan fungsi sel darah putih dalam melawan kuman yang masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, terjadi infeksi pada luka yang sukar sembuh itu dan selanjutnya dapat berakibat terjadinya pembusukan.
Komplikasi ketiga adalah ulkus diabetikum, yaitu adanya luka yang lama, tidak sembuh- sembuh, permukaan luka cukup dalam, bengkak, dengan bau busuk yang khas. Ulkus diabetikum merupakan penyebab seringnya dilakukan amputasi pada diabetesi. Penyumbatan pembuluh darah dan kerusakan saraf akibat kadar gula darah yang tinggi dan tak terkontrol menyebabkan aliran darah menuju ujung kaki tidak lancar. Luka menjadi sukar sembuh, oksigen dan sel darah putih sulit mencapai jaringan, imunitas tubuh menurun, dan terjadi penurunan fungsi sel darah putih dalam melawan kuman yang masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, terjadi infeksi pada luka yang sukar sembuh itu dan selanjutnya dapat berakibat terjadinya pembusukan.
Agar terhindar dari komplikasi ketiga ini, penderita diabetes wajib menjaga kondisi kaki. Borok pada kaki merupakan komplikasi yang umum dialami oleh diabetesi tipe 2. Karena itu, jagalah kondisi kaki dan waspadai luka yang tak kunjung sembuh. Selain itu, menerapkan pola makan sehat, seperti meningkatkan konsumsi makanan kaya serat dan menghindari makanan berlemak atau berkadar gula tinggi, melakukan olahraga teratur, menurunkan berat badan bagi yang mengalami kegemukan, dan berhenti merokok mengingat merokok dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Sumber: dr. Jimmy Tandradynata, Sp.PD, Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta; Majalah Silver
British Propolis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar